Selasa, 28 Februari 2012

Malam Minggu Itu... (1)

Aku berbaring lemas di sofa, merebah sejenak setelah menonton konser tunggal sebuah band bossanova. Melayangkan pikiran kembali ke, mungkin beberapa jam yang lalu.

--

Menunggu, bukan satu hal yang ingin aku lakukan. Tetapi, untuk kali ini, tak ada salahnya menunggu sebentar, atau, 2 jam. Ya, menunggu kamu dan temanmu itu. Ini memang sedikit membosankan, dimana aku hanya duduk dibawah pohon di depan IFI, di seberang BEC, Bandung. Dan sesekali berjalan kaki sebentar, meluruskan kaki. Entah berapa batang rokok yang aku habiskan, satu bungkus? Tidak aku kira, mungkin tiga-perempatnya. Lagipula, apa yang akan aku lakukan ketika menunggu dan tak ada hal lain yang ingin aku lakukan; selain berharap kau dan temanmu segera datang.
Dua jam kemudian, kamu dan temanmu datang. Aku lega akhirnya, karena tak lagi menunggu. Aku sengaja, membiarkanmu celingak-celinguk mencariku, yang sebenarnya aku ada tak lebih dari 10 meter dari tempatmu berdiri. Gelisah, karena tiket masukmu ada padaku. Entah kenapa, aku sedikit ingin melimpahkan kegelisahanku menunggu kalian, dengan membiarkan kalian juga gelisah. Namun, aku juga tak begitu tega melihat kamu gelisah. Inkonsisten. Memang.


Bersambung.

Minggu, 26 Februari 2012

Empty Road

Time moving on, like cars in an empty road
So why can't we moving on from the past?
Life isn't always like an empty road
But we still can moving on, isn't it?

I can moving on, I can
When I first saw you, reminds me of a one way street
Move fast to the future, too far, never too far
But I still can moving on, isn't it?

You have to lose some things for a better things
I believe on that
Brag all those memories from the past
For a better memories in the future.

I believe in you, i believe
You're my better things, mine
Even i haven't know it right or not, yet
But I still can moving on, isn't it?

Dentingan Waktu

Jam berdenting, aku tersadar; waktu terus berlalu
Meninggalkan lalu yang terkurung masa
Cita yang didekap suka, suatu saat akan terasa
Setelah berlalu dalam jam yang terus berdenting.

Jam berdenting, aku tersadar; waktu terus berlalu
Meskipun pilu tetap merundung  asa
Cita yang didekap duka, suatu saat tak akan terasa
Setelah melaju dalam waktu yang terus berlalu.

Tatap aku dalam keabadian
Tatap aku;
Dalam kebadian
Cinta.

Tatap aku dalam keabadian
Tatap aku;
Dalam kebadian
Cinta.

Jumat, 24 Februari 2012

Cinta Tak Pernah Salah

Untuk perempuan bergaun polkadot

Cinta tak pernah salah,
Cinta hanya terkadang melukai dengan cara yang tak terbayangkan
Tak pernah terencana, datang begitu saja; seperti hujan.

Cinta tak pernah salah,
Cinta hanya datang, dan kita rasakan dengan berbagai cara sesuka kita
Mungkin kita mencintai orang yang salah, itu saja.

Cinta tak pernah salah,
Cinta hanya membahagiakan ketika dua hati saling tertaut dalam raga
Yang sekarang, aku harap kita bisa bahagia; bersama.

Kau Adalah Hujan


Untuk perempuan bergaun polkadot

Kau adalah hujan yang deras mengalir
Yang dingin, membekukan hatiku hingga tak dapat merasa bahagia
Tidak, sebelum kau tak lagi bersikap dingin padaku.

Kau adalah hujan yang deras mengalir
Yang syahdu, menggetarkan hatiku dengan lantunan rindu
Ketika luapan tawamu tak sempat aku rasakan lagi.

Kau adalah hujan yang deras mengalir
Yang tunas, memekarkan pohon cinta yang suatu saat tumbuh
Penuh dedaun dan bunga bahagia, menghijau di dunia ini.

Kau adalah hujan yang deras mengalir
Yang angin, menghembuskan percikan cinta dari tempatmu berpijak
Menambah indah bunga hati yang bermekaran.

Kau adalah hujan yang deras mengalir
Yang matahari, menampakkan dirinya setelah rintik hujanmu berakhir
Mewarnai sunyi kelabu dinding hatiku, dengan pelangi.


Rabu, 22 Februari 2012

Kepada Yang Dulu Paling Merah

Ia tak pernah salah, kata-katanya selalu benar
Menyikapi keragu-raguan tanpa nanar
Di matanya. Ia memang seperti sebuah sinar
Yang menyinariku dikala mataku berbinar.

Serupa tawa yang menemaniku dalam telaga sunyi
Ia ada dalam ketiadaan, mendekapku dalam sepi
Tuhan adil, masalah tak pernah datang tanpa penyelesai
Yang sekarang kau beri dia untuk menemani.

Kala itu aku duduk dibawah pelukan malam
Tanpa senyum yang lebar, tak pernah membesar
Aku merenungi salah yang terlampau kasar
Menodai altar matamu yang setajam belati;
Menusukku dengan mesra dan lembut; seraya mengecup pipi.

Titik hitam di putih bola matamu, sama indahnya dengan senyuman
Memabukanku seperti arak yang menyeruak
Membuat oleng jalanku hanya dengan sekali lengkungan bibirmu
Yang kemudian aku buat pudar, dan luka mulai berpencar
Ke setiap relung hatimu secara tak sabar.

Nanti jika engkau menusukku kembali, aku tak akan gusar
Aku anggap semua sepadan dengan panah luka yang aku tancapkan
Tepat kedalam hati yang dulu berwarna merah; sekarang kelabu
Dadaku masih merindukan tawamu, tiada lain tawa yang menenangkanku
Selain engkau. Namun tak lagi akan datang
Tempatmu ada bersama malaikat-malaikat, bernyanyi riang dalam sayup tawa
Aku tak pernah pantas bersanding denganmu, yang bersayap malaikat
Dengan senyuman semanis Hawa.

Sajak Bagi Kawah Yang Aku Lukai

Aku masih mampu mencintaimu, dalam rumput sajak yang hijau. Yang lembut dan bising suara tawa; menenangkan asa. Meniup angin syahdu dengan gemulai, siapa tak akan terbelai? Gundukan bahagia, menghidupkan keriangan, dalam kawah yang terkesima akan luka. Aku masih bisa mencintaimu, sebenarnya. Namun, ternyata aku tak mampu.

Aku telah melukaimu, ternyata, dengan hitam yang naik pitam. Yang tertiup beliung, hingga burung pulang merenung. Merusak pepohonan senyum yang bibirnya melengkung kebawah. Tak pernah seindah itu, sebelum aku melukainya. Membunuh indah, dalam dekapan kenangan; kemarin dan sebelumnya. Menarik tuas kemudi hingga sepi datang kembali, enggan menepi.

Aku tak mampu mencintaimu, dengan luka yang kubawa bersama duri mawar. Dalam seperempat hari yang indah, aku dan kamu menertawai diri kita masing-masing, aku merusaknya. Dengan hujan murung yang terkurung mendung; berdiri dibawahnya. Aku awan, yang menurunkannya. Membasuh keriangan, membanjiri kawah itu, dengan luka yang baru.

Selasa, 21 Februari 2012

Lantunan Maaf, Dalam Dekapan Kata.

Saya, telah melakukan satu kesalahan yang fatal, setidaknya bagi diri saya sendiri. Ya, mungkin dia akan menganggap saya sebagai orang yang jahat. Kenapa? Seperti orang yang menerbangkan layangan, pertama-tama ia menerbangkan layangannya ke atas langit, kemudian, ada kalanya layangan itu putus dan terbang terjatuh, ada pula kalanya dimana layangan itu diturunkan kembali; ketika hujan, misalnya. Dalam hal ini, saya menjadi penerbang layangan itu, menerbangkannya keatas langit harap, dan menurunkannya kembali tanpa alasan. Meminjam alasan anak muda sekarang, mungkin saya bisa dibilang pemberi harapan palsu. Namun dibalik semua itu, saya memiliki alasan yang kuat untuk menurunkan layangan itu. Meskipun, caranya tidak ia sukai.
Setiap orang pasti memiliki caranya masing-masing untuk menyelesaikan sebuah masalah, dan ini cara saya, meskipun terkesan jahat, namun sekali lagi, ini cara saya. Saya meminta maaf jika memang ini menyakitkan bagimu, jujur, saya pun tidak tega melihat kamu seperti ini. Kesannya, saya menerbangkanmu, kemudian membiarkanmu jatuh dengan sendirinya. Namun bukan itu maksudku, saya hanya, merasa tak mampu untuk terbang mendampingimu di atas sana. Memang saya belum mencoba, tapi membayangkannya saja, saya tak mampu.
Maafkan saya, jika akhir-akhir ini saya memberimu perhatian yang berlebih, entah itu melalui surat-surat atau e-mail yang aku kiri, semua sms atau apapun, aku hanya merasa senang membahagiakanmu, jujur saja. Namun, aku terlalu lemah untuk meneruskannya. Kamu bisa lebih bahagia dengan orang yang lebih dariku. Tidak membiarkanmu seperti layangan, namun dia bisa menemanimu terbang hingga ke langit yang paling tinggi, yang mana saya tak pernah bisa jika bersamamu. Beribu maaf saya lantunkan lewat dekapan kata ini, yang suatu saat saya akan mengucapkannya langsung kepadamu, suatu saat.

Entahlah, Ini Hanya Seperti Ini


Jadi, apa arti sebuah dunia nyata jika percakapan-percakapan kita masih dipermainkan dalam dunia maya? Dunia maya itu memang tempat yang bisa mendekatkan kita dalam konteks jarak, kamu dimana, saya dimana, namun masih tetap berada dalam satu lingkup yang istilahnya sama, meskipun semu. Yang, senyata-nyatanya dekat itu, dalam istilah tidak puitis itu, berada dalam, misalkan, satu kursi yang sama, atau satu meja yang sama. Atau mungkin, satu lantai yang sama, lah, minimal. Tapi, yang saya inginkan itu, kita berada dalam satu tatap yang sama. Dalam satu lensa yang sama, yang membuat kita bisa melihat seluruh dunia dengan cinta dan senyum. Sebuah senyum yang kita lakukan setelah kita saling menatap dan menyatukan tatapan mata kita dalam satu lensa yang sama itu.
Entah kapan, semua momen itu akan terjadi dalan dunia nyata saya (atau kita?), namun, untuk sementara, dunia maya menjadi jembatan saja. Menjadi jembatan agar saya bisa menuju lantai dunia nyata bersamamu. Iya, berada dalam satu lantai yang sama bersamamu. Dan, tak perlu lagi saya dan kamu memakai lensa kacamata min yang merepotkan itu. Kita hanya perlu menyatukannya, agar kita berada dalam lensa yang sama untuk melihat semuanya lebih jelas. Atau, untuk menjelaskan semua, bahwa kita itu saling tertaut. Bukan oleh baut-baut, namun kita saling tertaut oleh cinta yang sedalam dan seluas laut. Saya tak mengerti bagaimana caranya untuk membuat kita saling bertaut, belum mengerti tepatnya. Namun sejalan dengan waktu yang terus melaju, saya pasti mengerti. 
Dengan setiap tebaran kode yang aku simpan di setiap ruang kecil di timeline itu, mungkin kamu akan mengerti. Bahwa, tak pernah lebih dalam lautan itu jika dibandingkan dengan dalamnya harapanku untuk membuat kita saling bertaut. Ah, saya terlalu menjabarkannya terlalu eksplisit. Namun, kamu sepertinya tidak akan pernah membuka atau membaca tulisan ini. Seperti kamu yang tidak akan pernah jeli untuk bisa membaca setiap tebaran kode-kode di ruang timeline yang super chaos itu. Ah, terlalu tinggi harapanku untuk memilikimu. Tapi siapa tau, Tuhan selalu mendengarkan saya yang selalu menyertakan namamu dalam setiap doa-ku, dan memberi jalan bagiku. 
Sudahlah, menjadi pengagum rahasia memang selalu menjadi nama tengahku. Dan stalking semua tentangmu, adalah pekerjaan sampinganku, selain memikirkanmu. Seperti bunyi satu pepatah ini, “Setinggi-tingginya tupai melompat, tak pernah lebih tinggi dari harapanku untuk memilikimu.”
KOWAWA!

Kamis, 16 Februari 2012

Yang Aku Inginkan Adalah Laut


Dear, kamu. 
Aku tau, bulan akan tetap menyinari kita meskipun engkau tetap menyinariku dengan cahaya di hitam bola matamu. Namun, aku terkadang merindukan cahaya bulan. Tanpa cahaya lain yang aku sebut kamu. Aku tau, kau pasti bilang aku tak pernah memaksa untuk menjadi cahayamu, namun aku, yang seakan-akan menginginkanmu menjadi cahayaku. Aku sedang berada diujung perjalanan pencarian pelangi, yang ujungnya, mungkin ada di hatimu. Namun, ada bisikan yang menyuruhku untuk kembali lagi ke sisi lain dari ujung pelangi itu. Aku tak tau kenapa, aku hanya, belum siap untuk membahagiakanmu. Bukan, aku bukan pengecut. Aku hanya merasa, meskipun kita memiliki banyak kesamaan, tetapi kita tetap berbeda. Aku menginginkan laut luas, yang bebas, namun engkau menginginkan hal yang lebih mengerucut, seperti danau. 
Aku selalu mendambakan kebebasan, dan sesuatu yang luas. Bukan seperti berada di suatu tempat yang tidak begitu luas dan kaku. Aku berbeda denganmu. Kita berbeda. Kau berada di tingkat langit yang lebih tinggi, sedang aku masih berada di dasar langit yang tidak seindah tempatmu. Susah bagiku untuk menembus 6 lapis agar bisa bersanding denganmu. Kita berbeda, kita terlampau beberapa lapis langit. Aku tak mau mengotori tempatmu yang putih, tempatku itu kelam. Hanya terdapat beberapa titik putih yang bahkan tak pernah berani kusentuh. Iya, aku memang suka bagaimana caramu membalas semua yang aku lakukan, namun, tak seperti yang aku harap. Bukan tak suka, tapi seperti yang sudah aku bilang, berbeda. Aku tak pernah tau kenapa bisa tiba-tiba seperti ini, aku hanya tak akan pernah bisa berada di tempatmu. Aku tak pernah bisa menjadi besok dari semua hari kemarinmu. Meskipun aku tau engkau bisa. Aku bukan seorang pejuang, aku bahkan tak bisa berkelahi. Tapi aku bukan pengecut. Aku hanya menyelesaikan segala sesuatu dengan caraku. Dengan segala apa yang aku bisa. Dan kamu, memang orang yang baik, yang tak perlu aku berjuang untukmu, karena disini, engkau lah sebenarnya yang menjadi seorang pejuang.

Minggu, 05 Februari 2012

Cerita Sahabat


Seseorang menatap langit bersama sebungkus rokok dan segelas susu hangat.
Aku yang diam, menatap rembulan. Menatap bintang dengan skeptis. Adakah bintang terang yang menerangi hatiku? Tuhan tahu jawabnya, aku hanya berharap saja, bahwa dialah bintangku. Ya, semoga saja. Karena itu adalah hak Tuhan untuk menentukan, aku hanya berharap saja. Berharap Tuhan berkata “Silahkan” ketika aku menyebutkan namanya dalam setiap harapku. Dalam doa yang kupanjatkan kepadaNya.
Hembusan angin menerpaku, membuat rambutku bergerak kesana kemari.
Samar kudengar angin berbisik, dan kemudian bercerita tentang kesyahduan cinta yang langit berikan. Di langit, semua keindahan itu berada. Bersenggama satu sama lain hingga menciptakan satu kesatuan yang sahih; Cinta. Ya, itu yang aku dengar dari bisikan angin malam. Dia suka sekali berada disana, tapi aku ‘tak boleh kesana katanya. Aku harus tetap ditempatku, dan menciptakan cinta sendiri, dengan caraku sendiri. 
Tetiba rintik hujan turun menyapa, membasahi wajah dan tubuhku.
Rintik hujan menyapaku, kemudian mengajaku bercerita tentang cinta. Dia mulai duluan. Dia kemudian bercerita tentang pelangi. Pelangi yang selalu setia menunggunya pergi, hingga tercipta keindahan. Aku pun lalu bilang kepadanya, bahwa aku dan teman-temanku disini menyukai pelangi. Dia hanya tersenyum, dan meneruskan bicara. Aku bisa menjadi pelangi katanya. Aku harus menjadi seperti pelangi, yang setia menunggu hujan reda. Karena pada akhirnya akan tercipta keindahan bagi orang lain. Haha, kata dia, keindahan untuk pasanganmu. Aku lalu bilang bahwa aku belum punya pacar, aku sedang mencarinya. Lalu dia tersenyum, tak usah mencari. Cinta akan datang dengan sendirinya, aku hanya harus belajar lebih peka saja.
Rokok habis, begitupun dengan kopi.
Malam sudah begitu larut, dan teman-teman berceritaku pun pamit untuk segera pulang. Mereka bilang mereka rindu dengan langit. Ah, aku iri kepada mereka. Tapi, aku sadar, mereka telah membuatku mengerti, bahwa keindahan dan kebahagiaan cinta itu akan datang dengan sendirinya. Yang kemudian akan membuatku seperti berada di langit, menjadi rembulan, bintang, ataupun pelangi. Menjadi seperti mereka. Yang akan menerangi, dan menciptakan keindahan bagi mereka. Mereka yang aku sayang. Yang dikemudian hari, setelah aku menulis ini, pasti akan datang. Ya, aku tau dari mereka, teman-temanku itu.
Aku berdiri dan berpuisi, menyampaikan terimakasihku kepada mereka.
Teruntuk langit,
Aku bahagia Tuhan telah menciptakanmu dengan segala keindahannya
Membuatku sadar arti keindahan, dan cinta
Kau menyadarkanku bahwa cinta itu ada disekitarku
Aku saja yang ‘tak peka
Teruntuk langit,
Aku bahagia kau membolehkan rembulan tinggal di tempatmu
Menyinariku dengan cahayanya, dengan segala cintanya
Ia menyadarkanku, bahwa aku pun harus menyinari
Tak hanya ingin disinari
Teruntuk langit,
Aku bahagia kau menciptakan bintang ketika malam hari
Membuatku selalu berdoa dan berharap kepadaNya
Agar dia bisa menerangi hatiku
Seperti bintang menyinari malamku
Teruntuk langit,
Terimakasih telah membuat hujan, yang mengakibatkan tercipta pelangi
Membuatku ingin menjadi seperti pelangi
Yang setia, agar tercipta kebahagiaan
Bagiku dan baginya.
Teruntuk langit,
rembulan, bintang dan pelangi
Terimakasih untuk selalu menemaniku disetiap hariku.
Aku bahagia punya teman seperti kalian
Yang membuatku menjadi jatuh cinta kepadanya.


Terkadang media sosial bisa menjadi suatu alat subversif bagi sesuatu yang sudah sahih kebenarannya. Dimana puluhan bahkan ratusan otak yang berbeda tingkat kepahaman tentang sesuatunya berbeda, membicarakan satu hal yang bersifat filosofis. Seperti yang kita tau, hal filosofis itu sesuatu yang sangat sensitif bagi setiap orang yang ‘paham’. Namun, bagi orang yang belum mengerti, hal ini menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Hal ini tentu membuat seseorang terlihat bodoh bagi orang lain, dan bagi saya yang mempunyai pemahaman filosofis sendiri, tentu merasa orang itu memang bodoh. Namun ada kalanya dimana kita harus menerima pendapat orang lain mengingat demokratisasi itu dimulai dari diri sendiri. Dan diam adalah solusi terbaik bagi saya untuk mengurangi tersulutnya konflik. Namun, jika orang tersebut telah menyulut konflik terhadap saya, saya tetap diam, dan biarkan orang itu terlihat lebih bodoh. 
Diam memang pilihan terakhir dari setiap hal. Namun diam disini memiliki makna tersendiri bagi saya. Contoh saja cerita Zarathustra dalam buku Nietszhe. Dimana diam, bukan berarti bodoh, namun suatu momen dimana kita mencari kesendirian -bukan kesunyian- untuk lebih mencari kebenaran filosofis yang lebih hakiki. Bukan flsuf, tapi agar kita tidak sama terlihat bodoh. Mungkin bagi sebagian orang mencari sesuatu kebenaran yang hakiki itu bisa membuat terlihat bodoh dimata orang yang tidak mengerti. Tapi tak apa, karena kita memperjuangkan sesuatu yang kita anggap benar.

Hail, philosophy in our right!


Senin, 30 Januari 2012

Girls - Father, Son, Holy Ghost (2011) -- Review


Wah, telat bagi saya mendengarkan album ini. PAdahal ini merupakan salah satu album yang bagus menurut saya. Girls, band asal California ini menyuguhkan musik yang megah, dengan unsur lo-fi disana0sini. Mendengarkan album Father, Son, Holy Ghost dari Girls ini, hmm, seperti sedang berada di sebuah padang pasir. Panas. Dengan fuzzy gitar dan lo-fi vocal, Christopher Owens bernyanyi seolah-olah dia adalah vokalis The Clash yang baru. Dengan musik Beach Rock mereka, mereka menawarkan aura yang berbeda di tiap lagunya. Coba saja dengarkan track pembuka mereka, Honey Bunny. Dengan mid-tempo dan gaya bernyayi Owens yang terdengar seperti band-band Dream Pop dan suara gitar ala Surf Rock. Namun, coba dengan track Die, terdengar sangat The Clash sekali. Tempo yang tinggi dan fuzzy gitar ala band drone, Owens bernyanyi dengan gagahnya. Kemudian, coba track selanjutnya, Myma. Terdengar sangat psikedelik. Mengingatkan saya pada Lynyrd Skynyrd. Gaya menyanyi Owens yang berbeda-beda di tiap tracknya menjadi satu poin yang membuat album ini layak untuk didengar. Dari gaya menyanyi seorang Clash rocker hingga menjadi seorang penyanyi balada. Mengingatkan saya pada Elvis Costello, memang. Namun jujur saja suara Owens terdengar lebih baik bagi saya.

Jumat, 27 Januari 2012

5 local songs of this week

1. Under the Big Bright Yellow Sun - Golden Day


Under the Big Bright Yellow Sun atau UTBBYS adalah band post-rock asal Bandung. Lagu Golden Days yang terdapat di split album bersama Sparkle Afternoon ini adalah lagu yang paling saya suka. Diawali dengan ketukan drum yang gagah, dan diikuti dengan petikan gitar dengan efek delay-nya. Memasuki tengah lagu, suara drum menjadi lebih megah ditambah alunan tuts keyboard. Ah, ke-sunyi-bising-sunyi-bising-an lagu ini membuat emosi pendengar juga turun naik. Good job!

2. Polka Wars - Coraline


Coraline, satu dari dua lagu Polka Wars yang sudah saya dengar. lagu ini memiliki sound yang unik, dengan range vokal bariton dan alto yang lugas dan pelafalan bahasa inggris yang jelas. Juga lirik yang bikin saya mengikuti si vokalis bernyanyi di part reff.

3. Munchausen Trilemma - If Loving You is Heartbreaking


Munchausen Trilemma adalah sebuah band baru asal Bandung, vokalis sekaliagus gitarisnya adalah seorang yang tak asing lagi di scene indie bandung, Diantra yang merupakan vokalis dari Hollywood Nobody. Lagu ini beraliran indie-rock, dengan lirik yang bertema cinta, Munchausen Trilemma siap mewarnai scene indie di Bandung.

4. Mind Deer - Blue Sky Blue


Mind Deer sedikit mengingatkan saya pada Mew, dan juga Le Futur Pompiste. Dengan musik riang dan female vocalist, ditambah riff-riff gitar yang menawan, lagu seperti Blue Sky Blue, Humming Song dan lainnya menjadi enak untuk didengar.

5. Jirapah - Alexander


Sebuah band asal Brooklyn, US, yang sebenarnya personelnya adalah orang-orang Indonesia ini mendapat apresiasi yang bagus dari scene indie disana. Dengan riff yang aneh dan bassis wanita, ah, Jirapah membuat saya jatuh cinta.

Senin, 19 Desember 2011

TansArt Fest 2011

Hello, saya kemaren baru aja jadi panitia di satu acara yang gede, yaitu TansArt Fest, acara pensi di SMA saya dulu, SMA Tanjungsari. Disana kita nampilin Rocket Rockers, dan sebenernya pada awalnya juga ngundang Closehead, tapi karena polisi tiba-tiba ngasih tau kalo acara cuma bisa nyampe jam 5, dengan terpaksa kita ngebatalin Closehead perform dengan beberapa alasan. Ya, uang berapa juta buat bayar mereka pun ngelayang gitu aja, ga bisa di refund.
Overall, acara sukses tanpa ada trouble yang berarti. Dan klimaksnya pas Rocket Rockers mulai on stage, semua panitia, khususnya saya, Cecep, Adjo dan panitia alumni lain, ngerasa bener-bener bangga karena acara bisa sukses dan berakhir tanpa ada trouble. Yap, ini acara gede pertama di SMA ini, dengan ketua panitia anak kelas 3 dan panitia juga banyaknya anak kelas 3 dan 2, tapi acara bisa sukses. Proud of you guys!








Panitia TansArt Fest 2011