| Banjar, 10 Maret 2011 |
Kau, gembira adalah senja
Ketika lembayung mulai beradu turun,
Dan cahaya rembulan samar mengintip
Hening menyelinap memburu angan, seraya menghembuskan nafas putus asa.
Dan menghantam tulang dengan semua halusinasi bernama cinta
Nafas terkoyak seiring resah, gelisah dan senyum kecut yang datang bersama
Terbitkan mentari di timur dan senja yang gelisah.
Tatap aku, cinta! Tatap aku!
Aku laksana seorang sepi yang berpuisi di bawah gersang,
Aku kerontang.
Bahkan tulang, jantung dan hati, aku katakan itu milikmu
Semua harapan milikku, seutuhnya untukmu
Tapi sadarkan aku, bahwa semua bintang itu adalah ilusi
Seperti kau, yang sepenuhnya adalah harapan.
****