![]() |
| Pangandaran, date unknown. |
Jam itu berdenting kembali, menunjukan waktu pukul 12 malam. Mata ini masih tersadar, sepenuhnya tersadar. Hati yang patah akibat jatuh, masih terasa pilu membekas. Entah berapa gelas yang telah kupecahkan ketika kucoba tuk memegangnya. Ketidaksadaran akan kenyataan buyarkan fokus. Gemericik hujan menyadarkanku, bahwa kedinginan yang hakiki adalah kesendirian. Dan, aku tak perduli akan raga ketika dinginnya angin malam menusuk tulang, sadarkan lamunan.
Ingatan kecewa ketika malam itu bersamamu kembali menyelinap masuk memori. Namamu kembali terucap, suaramu masuk radar pendengaran. Aroma tubuhmu kembali memaksa ‘tuk tercium. Kilau indah rambutmu biaskan pandangan ke arah lain, aku sepenuhnya mengingatmu. Kau, wanita yang telah membuatku jatuh, cinta. Dan patah, hati.
Setiap elegi patah hati, buyarkan senyum, canda, bahagia. Sobek setiap halaman roman cinta. Kekecewaan akan jawaban yang tak sepenuhnya terjawab. Dinginkan hati yang hangat karena keberadaanmu di dalamnya. Namun seakan waktu berlalu, aku sadar, kau tak seperti yang aku harap.
Aku masih bisa ingat indah senyummu, indah kedua bola matamu yang sipit. Rambut indah dan tawamu yang lucu, masih rapi tersimpan di hatiku. Setiap kata-kata indah yang terucap dari bibir manismu, masih bisa kuingat jelas. Semuanya indah, namun pahit.
Atas nama kata-kata indah yang mereka sebut puisi, aku bersumpah; Bahwa aku, jatuh ke hatimu. Aku terperangkap di bola matamu yang lugu. Dan aku terpenjara di dalam hatimu, yang tak ingin aku ada didalamnya. Kau, mentari pagi ku yang terbenam kedalam gelap malam, ku lupakan. Aku, akan menunggu hingga mentari lain, terbit kembali.
Oh, aku patah, hati!
