Well, seperti yang banyak ramalan-ramalan bintang bicarakan, katanya orang-orang Pisces itu plin-plan. Meskipun saya tidak begitu percaya dengan ramalan bintang, tapi hal ini memang saya rasakan sendiri. Dan saya memang plin-plan. Misalkan dalam hal yang sangat kecil saja, sepatu. Hari ini misalkan saya lagi pengen banget beli sepatu Vans Authentics, tapi besoknya saya jadi pengen banget beli sepatu Converse All Star. Dan akhirnya saya jadi beli sepatu New Balance. Itu salah satu contoh hal yang tidak penting, tapi tetep saja saya plin-plan dalam memilih.
Juga dalam hal yang sifatnya masif, soal perasaan lah sebut saja. Saya bisa minggu ini suka sama si A, sepik sini sepik sana, tapi minggu depannya atau bulan depannya saya suka sama si B. Dan bulan depannya saya suka sama si C, kadang saya pernah begitu. Tapi hal ke-plin-planan ini tidak terjadi kalo saya udah pacaran. Saya setia sih orangnya (katanya loh ya, katanya). Ya udah sih, segini aja. Ga penting kan? Emang.
Tampilkan postingan dengan label anekdot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anekdot. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Maret 2012
Selasa, 21 Februari 2012
Lantunan Maaf, Dalam Dekapan Kata.
Saya, telah melakukan satu kesalahan yang fatal, setidaknya bagi diri saya sendiri. Ya, mungkin dia akan menganggap saya sebagai orang yang jahat. Kenapa? Seperti orang yang menerbangkan layangan, pertama-tama ia menerbangkan layangannya ke atas langit, kemudian, ada kalanya layangan itu putus dan terbang terjatuh, ada pula kalanya dimana layangan itu diturunkan kembali; ketika hujan, misalnya. Dalam hal ini, saya menjadi penerbang layangan itu, menerbangkannya keatas langit harap, dan menurunkannya kembali tanpa alasan. Meminjam alasan anak muda sekarang, mungkin saya bisa dibilang pemberi harapan palsu. Namun dibalik semua itu, saya memiliki alasan yang kuat untuk menurunkan layangan itu. Meskipun, caranya tidak ia sukai.
Setiap orang pasti memiliki caranya masing-masing untuk menyelesaikan sebuah masalah, dan ini cara saya, meskipun terkesan jahat, namun sekali lagi, ini cara saya. Saya meminta maaf jika memang ini menyakitkan bagimu, jujur, saya pun tidak tega melihat kamu seperti ini. Kesannya, saya menerbangkanmu, kemudian membiarkanmu jatuh dengan sendirinya. Namun bukan itu maksudku, saya hanya, merasa tak mampu untuk terbang mendampingimu di atas sana. Memang saya belum mencoba, tapi membayangkannya saja, saya tak mampu.
Maafkan saya, jika akhir-akhir ini saya memberimu perhatian yang berlebih, entah itu melalui surat-surat atau e-mail yang aku kiri, semua sms atau apapun, aku hanya merasa senang membahagiakanmu, jujur saja. Namun, aku terlalu lemah untuk meneruskannya. Kamu bisa lebih bahagia dengan orang yang lebih dariku. Tidak membiarkanmu seperti layangan, namun dia bisa menemanimu terbang hingga ke langit yang paling tinggi, yang mana saya tak pernah bisa jika bersamamu. Beribu maaf saya lantunkan lewat dekapan kata ini, yang suatu saat saya akan mengucapkannya langsung kepadamu, suatu saat.
Entahlah, Ini Hanya Seperti Ini
Jadi, apa arti sebuah dunia nyata jika percakapan-percakapan kita masih dipermainkan dalam dunia maya? Dunia maya itu memang tempat yang bisa mendekatkan kita dalam konteks jarak, kamu dimana, saya dimana, namun masih tetap berada dalam satu lingkup yang istilahnya sama, meskipun semu. Yang, senyata-nyatanya dekat itu, dalam istilah tidak puitis itu, berada dalam, misalkan, satu kursi yang sama, atau satu meja yang sama. Atau mungkin, satu lantai yang sama, lah, minimal. Tapi, yang saya inginkan itu, kita berada dalam satu tatap yang sama. Dalam satu lensa yang sama, yang membuat kita bisa melihat seluruh dunia dengan cinta dan senyum. Sebuah senyum yang kita lakukan setelah kita saling menatap dan menyatukan tatapan mata kita dalam satu lensa yang sama itu.
Entah kapan, semua momen itu akan terjadi dalan dunia nyata saya (atau kita?), namun, untuk sementara, dunia maya menjadi jembatan saja. Menjadi jembatan agar saya bisa menuju lantai dunia nyata bersamamu. Iya, berada dalam satu lantai yang sama bersamamu. Dan, tak perlu lagi saya dan kamu memakai lensa kacamata min yang merepotkan itu. Kita hanya perlu menyatukannya, agar kita berada dalam lensa yang sama untuk melihat semuanya lebih jelas. Atau, untuk menjelaskan semua, bahwa kita itu saling tertaut. Bukan oleh baut-baut, namun kita saling tertaut oleh cinta yang sedalam dan seluas laut. Saya tak mengerti bagaimana caranya untuk membuat kita saling bertaut, belum mengerti tepatnya. Namun sejalan dengan waktu yang terus melaju, saya pasti mengerti.
Dengan setiap tebaran kode yang aku simpan di setiap ruang kecil di timeline itu, mungkin kamu akan mengerti. Bahwa, tak pernah lebih dalam lautan itu jika dibandingkan dengan dalamnya harapanku untuk membuat kita saling bertaut. Ah, saya terlalu menjabarkannya terlalu eksplisit. Namun, kamu sepertinya tidak akan pernah membuka atau membaca tulisan ini. Seperti kamu yang tidak akan pernah jeli untuk bisa membaca setiap tebaran kode-kode di ruang timeline yang super chaos itu. Ah, terlalu tinggi harapanku untuk memilikimu. Tapi siapa tau, Tuhan selalu mendengarkan saya yang selalu menyertakan namamu dalam setiap doa-ku, dan memberi jalan bagiku.
Sudahlah, menjadi pengagum rahasia memang selalu menjadi nama tengahku. Dan stalking semua tentangmu, adalah pekerjaan sampinganku, selain memikirkanmu. Seperti bunyi satu pepatah ini, “Setinggi-tingginya tupai melompat, tak pernah lebih tinggi dari harapanku untuk memilikimu.”
KOWAWA!
Minggu, 05 Februari 2012
Terkadang media sosial bisa menjadi suatu alat subversif bagi sesuatu yang sudah sahih kebenarannya. Dimana puluhan bahkan ratusan otak yang berbeda tingkat kepahaman tentang sesuatunya berbeda, membicarakan satu hal yang bersifat filosofis. Seperti yang kita tau, hal filosofis itu sesuatu yang sangat sensitif bagi setiap orang yang ‘paham’. Namun, bagi orang yang belum mengerti, hal ini menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Hal ini tentu membuat seseorang terlihat bodoh bagi orang lain, dan bagi saya yang mempunyai pemahaman filosofis sendiri, tentu merasa orang itu memang bodoh. Namun ada kalanya dimana kita harus menerima pendapat orang lain mengingat demokratisasi itu dimulai dari diri sendiri. Dan diam adalah solusi terbaik bagi saya untuk mengurangi tersulutnya konflik. Namun, jika orang tersebut telah menyulut konflik terhadap saya, saya tetap diam, dan biarkan orang itu terlihat lebih bodoh.
Diam memang pilihan terakhir dari setiap hal. Namun diam disini memiliki makna tersendiri bagi saya. Contoh saja cerita Zarathustra dalam buku Nietszhe. Dimana diam, bukan berarti bodoh, namun suatu momen dimana kita mencari kesendirian -bukan kesunyian- untuk lebih mencari kebenaran filosofis yang lebih hakiki. Bukan flsuf, tapi agar kita tidak sama terlihat bodoh. Mungkin bagi sebagian orang mencari sesuatu kebenaran yang hakiki itu bisa membuat terlihat bodoh dimata orang yang tidak mengerti. Tapi tak apa, karena kita memperjuangkan sesuatu yang kita anggap benar.
Hail, philosophy in our right!
Langganan:
Postingan (Atom)

