Senin, 22 Agustus 2011

Harapan di Pucuk Senja


Suatu malam di bulan Januari.

“Mau ga, kamu jadi pacar aku?”, Tanya Ditsa ke Cathy, cewe yang udah lama dia taksir. Sambil harap-harap cemas, Ditsa sudah mengira-ngira apa yang bakal Cathy jawab. Berfikir hal terburuk yang bakal terjadi, Ditsa pasrah saja. Setelah beberapa detik tak ada yang berbicara, akhirnya Cathy pun berkata,
“Maaf ya, Dit”, Cathy terdiam sejenak sambil menatap wajah Ditsa. Terlihat wajah Ditsa menyiratkan betapa sakitnya dia mendengar kata itu.
“Tapi aku ga bisa secepat ini. Kita belum lama kenal. Jadi sekali lagi, maaf ya, aku ga bisa nerima kamu. Tapi aku bilang gini bukan berarti aku ga ada feeling sama kamu.” Ucap Cathy. Ditsaa hanya bisa terdiam mendengar itu. Ia terdiam sejenak, menutupi betapa hancurnya perasaannya saat mendengar jawaban Cathy. Ia masih belum bisa berkata apa-apa. Mulutnya penuh keheningan, seakan bibirnya terkunci dari kata. Dalam diam, Cathy berkata lagi,
“Maaf, Dit. Aku bingung sumpah”, ucapnya. Ditsa duduk di teras depan rumah Cathy. Sambil menahan rasa patah hati ia berkata,
“Iya ga apa-apa kok, Cath. Aku ngerti kok sama keputusan kamu, emang aku yang salah, kok.”, jawab Ditsa, seakan tegar menghadapi semua ini. Padahal, hatinya telah hancur berkeping-keping, menyisakan pedih yang sangat mendalam. Harapan yang telah ia taruh di hati Cathy telah sirna oleh kata ‘maaf’. Cathy terdiam, terlihat rasa menyesal di wajahnya, tapi ia telah yakin dengan keputusannya.
“Ya udah, aku pulang dulu ya, udah malem.”, ucap Ditsa sambil berjalan gontai kearah motornya, tak tersisa sedikitpun senyum di wajahnya. Berbeda seperti beberapa jam sebelumnya disaat ia masih tertawa bersama, bareng Cathy tentunya.
Sambil menyalakan motor, ia menatap Cathy dengan tatapan kosong, kemudian tersenyum. Cathy tak membalas senyumnya, entah karena kasihan atau apa, ia hanya membalas tatapan Ditsa dengan diam.
“Kamu harus tetep senyum kayak biasa, Dit. Jangan nge-down kayak gini.”, ucapnya sambil terus menatap ke arah Ditsa.
“Iya aku coba, Cath”, jawabnya dengan senyuman, menutup kesedihan yang ia rasa. Ditsa pun akhirnya pulang ke rumah dengan perasaan hancur. Seseorang yang telah ia taksir selama beberapa bulan, menolak cintanya. Salahnya memang, tak mengenal waktu dengan menyatakan cinta disaat yang tak tepat. Yah, begitulah hasilnya, itu memang resiko dalam cinta.


**

Beberapa minggu setelah kejadian itu.

Ditsa sekarang udah agak jauh sama Cathy, meskipun masih terpendam rasa sayang sama dia. Sekarang, mereka seperti musuh. Tak ada contact sama sekali, kalo ketemu di jalan pun ga pernah saling sapa, meskipun Ditsa sebenarnya pengen nyapa, tapi dia malu sama Cathy. Ya, bagaimana pun ia pernah ditolak sama Cathy, jadi pasti ia malu. Semua itu terjadi lumayan lama, hingga pada suatu hari Ditsa ketemu sama Diaz, temen deket si Cathy. Tiba-tiba Diaz buka facebook Cathy dan menyuruh dia melihatnya.
Cathy in a relationship with …… “, tak sampai habis Ditsa membaca, ia udah ngerti. Ya, Cathy, orang yang dia sayang, sekarang punya pacar. Ditsa mencoba tetap tenang. Sambil tersenyum ia berkata pada Diaz,
“Ah, emangnya gua peduli sama dia? Udah ga ngaruh tuh sama hidup gua”, ucap Ditsa sambil menahan sakit dihatinya. Ia berkata itu seakan-akan dia memang tak perduli, padahal, hatinya kembali merasa patah. Ditsa terdiam. Diaz yang ngajak ngobrol pun sepertinya tak ia dengar.
“Bener ga perduli, Dit?”, Tanya Diaz sambil tertawa. Ditsa hanya tersenyum tanpa ekspresi, ia seperti kembali ke malam dimana ia ditolak oleh Cathy, tapi, dengan dosis sakit hati yang lebih tinggi. Ditsa pun kemudian pulang ke rumah, dan ia kemudian tidur, berharap ketika ia terbangun, keadaan berubah.

**

Malam minggu, beberapa hari setelah Cathy punya pacar.

Ditsa lagi ngumpul bareng temen-temennya di tempat biasa, pas lagi asik-asik ketawa-ketawa. Dari jauh keliatan ada si Cathy lagi duduk. Bukannya seneng, Ditsa malah cemburu, soalnya Cathy disana bareng sama pacarnya. Ditsa yang lagi ketawa-ketawa sama temen-temennya jadi diem. Dia ngerasa cemburu. Dari tingkahnya ia pengen cepet-cepet pulang, tidur dan lupain apa yang udah dilihatnya. Tapi dengan tegar ia tetap duduk disana, ngeliatin dari jauh, negabayangin kalo cowok yang lagi duduk di sebelah Cathy adalah dirinya. Tiba-tiba Diaz menepuk pundak Ditsa dan berkata,
“Sabar ya, Dit.” Diaz tersenyum sama Ditsa. Senyuman seorang sahabat yang nyemangatin, emang bisa nenangin Ditsa. Walaupun hatinya tetep panas. Tapi setidaknya Ditsa ikut bahagia melihat Cathy yang bisa tersenyum lepas sama pacarnya. Karena bagaimana pun, melihat orang yang kita sayang bahagia adalah kesenangan tersendiri bagi kita. Ya, meskipun bukan kita yang membuat itu.
Ga lama kemudian, kita semua pulang. Ditsa ga tau, kalo sebenernya disaat ia pulang, suatu hal yang ia inginkan, terjadi.

**

Beberapa hari kemudian.

“Dit, si Cathy udah putus lagi tuh sama pacarnya”, ucap Diaz.
Hari itu, tanggal 1 april, tepat di hari april mop, Ditsa nge-tweet kayak gini, “Asik! Dia putus sama pacarnya! #AprilMop”. Dan ternyata gak disangka, beberapa jam kemudian, itu terjadi. Cathy putus sama pacarnya. Ditsa seneng banget mendengar hal itu, meskipun dia tetep ga tau apa yang bakal dia lakuin selanjutnya. Tapi dari sana, Ditsa mulai deket lagi sama Cathy, kalo ketemu jadi saling sapa lagi, sering bbm-an lagi. Dan mereka pun jadi sering ketemuan, ngobrol-ngobrol bareng, ketawa-ketawa bareng. Ditsa ngerasa hidupnya kembali normal. Ditsa kembali bangkit dari keterpurukannya karena cinta. Ya, Cathy yang membuat Ditsa down, dan Cathy yang buat Ditsa up lagi.
Tapi mirisnya, disaat Ditsa lagi seneng-senengnya deket sama Cathy, Ditsa baca-baca twitter, tumblr, dan status bbm Cathy yang negasin kalo ternyata dia masih sayang sama mantannya. Ditsa ngerasa down lagi. Darisana, ia punya niat mau ngelupain Cathy. Meskipun ia yakin kalo itu susah, tapi Ditsa tetep nyoba, dan hasilnya? Gagal! Ditsa masih tetep sering inget sama Cathy. Dan akhirnya suatu saat, ada satu cewek yang ngedeketin Ditsa, namanya Luna. Ditsa pun awalnya nge-respon, dengan harapan bisa lupain Cathy. Mereka pun udah deket banget, dan keliatan kalo Luna itu suka sama Ditsa. Ditsa pun sempet suka sama Luna, tapi dia ga tega kalo harus deket sama Luna, tapi seluruh hatinya masih buat Cathy. Ditsa pun bingung, sampai akhirnya Ditsa ngungkapin seluruh isi hatinya sama Cathy. Ditsa ngungkapin seluruh isi hatinya sama Cathy, dan Ditsa seneng, karena akhirnya Cathy bilang gini,
“Sebenernya tiap hari juga aku coba loh buat sayang sama kamu, Dan aku juga udah mulai suka sama kamu, kamunya aja ga nyadar.”, ucap Cathy. Betapa bahagianya Ditsa ketika denger itu. Hal yang selama ini dia harepin, akhirnya kejadian, meskipun mungkin belum sepenuhnya terjadi.
“Tapi katanya kamu masih sayang sama mantan kamu, kan?” Tanya Ditsa.
“Aku udah mulai coba lupain dia kok, Dit.”, jawab Cathy. Ditsa pun mulai tenang. Dan dari sana, Ditsa udah punya satu keputusan; jauhin Luna. Ya, Ditsa mau nyoba deketin Cathy lagi, orang yang selama ini dia sayang, orang yang selama ini dia tunggu-tunggu. Sekarang, keadaan udah mulai membaik, Ditsa sama Cathy udah deket lagi, dan sepertinya sekarang menjadi lebih mudah buat Ditsa dapetin hati Cathy, meskipun Ditsa tau, kalo dapetin hati Cathy itu susah. Tapi, dengan usaha-usaha yang Ditsa lakuin, semuanya memang menjadi mudah.


**

Beberapa minggu kemudian.

“Sayaaaang, jalan yuuk.” Ajak Cathy. Ditsa pun tersenyum dan menjawab,
“Ayo sayang, mau jalan kemana?”


***


THE END!