Minggu, 26 Desember 2010

alangkah lucunya negeri ini

well, saya termasuk orang yang ga bisa basa-basi buat pembukaan, saya maunya langsung saja ke isi, dan penutup, tapi saya adalah seorang murid baik di sekolah dan selalu mentaati pelajaran yang sudah diberikan, sebagaimana ibu dan bapak guru bahasa indonesia saya ajarkan, kalau sebuah cerita itu ada sebuah pembuka, isi, dan penutup. nah, pembukanya adalah sudah barusan, dan mari lanjut ke isi.
mungkin kalian bertanya-tanya apa yang akan saya tulis disini, sekarang, mungkin akan sedikit menyimpang dari apa yang biasa saya bahas, musik, art, lifestyle atau apapun itu namanya. saya akan sedikit menjadi tua dan kritis. ya, saya akan menulis tentangt issue; politik. seperti yang kalian tahu, politik di indonesia itu sudah tercemar oleh betapa buruknya kinerja wakil-wakil rakyatnya -yang katanya dipilih oleh rakyat atas nama demokrasi-. korupsi, adalah tinta hitam di perpolitikan indonesia, dan itu yang akan jadi sorotan saya dalam issue ini.
spanduk yang berhasil dibentangkan oleh para propagandis.


korupsi dan koruptor, adalah sebuah lintah yang akan selalu menghisap darah bangsa kita. kita sebagai masyarakat yang bersih (mungkin) harus selalu berusaha membasmi lintah-lintah tersebut, siapapun. termasuk dalam sepak bola, kalian tahu, Nurdin Halid, ya, ketua umum PSSI itu adalah seorang residivis, seorang napi. dia divonis 2 kali dalam kasus korupsi.betapa tidak tahu malunya dia, seorang residivis menjadi seorang ketua umum sebuah persatuan olahraga yang diminati hampir kebanyakan masyarakat di indonesia. bagi saya, PSSI dan orang-orang di dalamnya, tidak jauh berbeda dengan sebuah organisasi kotor, pro-ical, dan koruptor. juga, nurdin halid yang merupakan salah seorang pengurus golkar, bersama partainya itu, mengaku-ngaku mempunyai andil dalam penurunan harga tiket final AFF 2010, mengaku-ngaku orang-orang PSSI adalah kader Golkar, tapi disaat kacrutnya manajemen penjualan tiket hingga menimbulkan korban jiwa, mereka tidak mau mengaku!mereka tidak mau bilang bahwa orang-orang partai ada dibelakang PSSI, tapi ketika merasa sesuatu akan menaikan pamor mereka, mereka mengaku-ngaku, cih!
juga politisasi di dalam sepak bola, tidak perlu lah sebenarnya, dengarn sorotan media terhadap para pemain timnas yang terlalu over, menyebabkan para pemain merasa tidak nyaman, dan merasa tertekan. ditambah dengan politisasi dengan membawa seluruh pemian timnas dan official ke rumah salah seorang pebisnis terkaya di asia, aburuzal bakrie yang aduh juga seorang koruptor ulung kesayangan presiden. politisasi di sepak bola merupakan suatu pressure tambahan bagi para pemain, yang mereka inginkan hanya bemain dan menang. nurdin halid pernah bilang ketika di wawancara salah satu televisi swasta ketika berkomentar tentang keributan dan kekacauan ketika mengantri tiket di GBK, "janganlah memaksakan membeli tiket kalau tidak kebagian, jangan membuat para pemain tertekan dan merasa tidak nyaman", cih!memang nurdin itu tidak tahu malu, dengan politisasi yang dia lakukan di timnas pun sudah sangat menekan kepada pemain.
mungkin spanduk ini bisa dilihat di final leg ke 2


oke, nurdin halid, seorang koruptor yang ironisnya ternyata akan duduk di tribun kehormatan di laga final nanti, duduk disamping presiden, ibu negara dan menpora. seseorang yang tidak hormat, tetapi malah diberikan kehormatan seperti itu, alangkah lucunya negeri ini kalau kata dedi mizwar.
Nurdin halid dan PSSI, adalah bukti nyata bahwa korupsi adalah budaya indonesia yang mengakar. dan seperti Zen Rahmat bilang;


"aku berlindung dari godaan nurdin yang terkutuk"